Kamis, 21 Januari 2010

Trauma pada Bulbus Oculi

Trauma pada Bulbus Oculi

Kontributor (Mahasiswa Kedokteran FKUNS) : Anggie Ariandhita G (G0007035), Anindyo Pradipta Suryo (G0007037), Anistyaning Wahyu Adhie (G0007039), Arini Rahmawati (G0007043), Bety Nurhajat Jalanita (G0007045), Carko Budiyanto (G0007049), Triastuti Diah Kumalasari (G0007163), Trida Ermawati (G0007167), Vicky Kurniawan Burkie (G0007169), Wahyu Agung S (G0007171), Yessi Perlitasari (G0007173)

PENDAHULUAN

Walaupun mata mempunyai sistem pelindung yang cukup baik seperti rongga orbita, kelopak, dan jaringan lemak retrobulbar selain terdapatnya refleks memejam atau mengedip, mata masih sering mendapat trauma dari dunia luar. Trauma dapat mengakibatkan kerusakan pada bola mata dan kelopak, saraf mata dan rongga orbita. Kerusakan mata akan dapat mengakibatkan atau memberikan penyulit sehingga mengganggu fungsi penglihatan. Trauma pada mata memerlukan perawatan yang tepat untuk mencegah terjadinya penyulit yang lebih berat yang akan mengakibatkan kebutaan.

Trauma pada mata dapat mengenai jaringan di bawah ini secara terpisah atau menjadi gabungan trauma jaringan mata. Trauma dapat mengenai jaringan mata: palpebrae, konjungtiva, cornea, uvea, lensa, retina, papil saraf optik, dan orbita. Trauma mata merupakan keadaan gawat darurat pada mata.

Definisi Masalah

Seorang laki-laki berumur 30 tahun, memiliki keluhan utama bola mata kanan berdarah. Riwayat : 2 jam lalu kena ledakan aki mobil. Pemeriksaan : visus 1/300, palpebrae inferior rupture 1 cm sebelah lateral kantus medius, konjunctiva bulbi chemosis, cornea edema dan pucat di 2/3 luas limbus, hifema 1/3 bawah COA, lensa subluksasi ke COA, fundus gelap, TIO N-, pasien tidak dapat melirik ke atas.

Penanganan : infus RL, antibiotik, analgetik, asam tranexamic. Direnacanakan explorasi, recanalisasi canalis lacrimalis, dan rekontruksi palpebrae.

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI

Trauma mata adalah tindakan sengaja maupun tidak yang menimbulkan perlukaan mata. Trauma mata merupakan kasus gawat darurat mata, dan dapat juga sebagai kasus polisi. Perlukaan yang ditimbulkan dapat ringan sampai berat atau menimbulkan kebutaan bahkan kehilangan mata.

B. JENIS-JENIS TRAUMA

TRAUMA ASAM

Trauma asam merupakan salah satu jenis trauma kimia mata dan termasuk kegawatdaruratan mata yang disebabkan zat kimia bersifat asam dengan pH < 7. Beberapa zat asam yang sering mengenai mata adalah asam sulfat, asam asetat, hidroflorida, dan asam klorida. Jika mata terkena zat kimia bersifat asam maka akan terlihat iritasi berat yang sebenarnya akibat akhirnya tidak berat. Asam akan menyebabkan koagulasi protein plasma. Dengan adanya koagulasi protein ini menimbulkan keuntungan bagi mata, yaitu sebagai barrier yang cenderung membatasi penetrasi dan kerusakan lebih lanjut. Hal ini berbeda dengan basa yang mampu menembus jaringan mata dan akan terus menimbulkan kerusakan lebih jauh. Selain keuntungan, koagulasi juga menyebabkan kerusakan konjungtiva dan kornea. Dalam masa penyembuhan setelah terkena zat kimia asam akan terjadi perlekatan antara konjugtiva bulbi dengan konjungtiva tarsal yang disebut simblefaron.(Susanto, 2004; Vaughan, 2000)

Penatalaksanaan yang tepat pada trauma kimia adalah irigasi dengan menggunakan salin isotonic steril dan memeriksa pH permukaan mata dengan meletakkan seberkas kertas indicator di forniks. Ulangi irigasi apabila pH tidak terletak antara 7,3-7,7. (Vaughan, 2000).

TRAUMA BASA

Trauma akibat bahan kimia basa akan memberikan iritasi ringan pada mata apabila dilihat dari luar. Namun, apabila dilihat pada bagian dalam mata, trauma basa ini mengakibatkan suatu kegawatdaruratan. Basa akan menembus kornea, camera oculi anterior, dan sampai retina dengan cepat, sehingga berakhir dengan kebutaan. Pada trauma basa akan terjadi penghancuran jaringan kolagen kornea. Bahan kimia basa bersifat koagulasi sel dan terjadi proses persabunan, disertai dengan dehidrasi.

Menurut klasifikasi Thoft, trauma basa dapat dibedakan menjadi:

* Derajat 1 : terjadi hiperemi konjungtiva disertai dengan keratitis pungtata
* Derajat 2 : terjadi hiperemi konjungtiva disertai hilangnya epitel kornea
* Derajat 3 : terjadi hiperemi disertai dengan nekrosis konjungtiva dan lepasnya epitel kornea
* Derajat 4 : konjungtiva perilimal nekrosis sebanyak 50%

Tindakan bila terjadi trauma basa adalah secepatnya melakukan irigasi dengan garam fisiologik selama mungkin. Bila mungkin irigasi dilakukan paling sedikit 60 menit setelah trauma. Penderita diberi sikloplegia, antibiotika, EDTA untuk mengikat basa. EDTA diberikan setelah 1 minggu trauma basa, diperlukan untuk menetralisir kolagenase yang terbentuk pada hari ketujuh. Penyulit yang dapat terjadi adalah simblefaron, kekeruhan kornea, edema, dan neovaskularisasi kornea, katarak, disertai dengan ptisis bola mata.

TRAUMA TEMBUS

Adalah suatu trauma dimana sebagian atau seluruh lapisan cornea dan sclera mengalami keruskan.

Etiologi

Terjadi akibat masuknya benda asing ke dalam bulbus oculi:

Ø Logam: magnit, bukan magnit

Ø Non logam

Manifestasi Klinis

- Visus turun

- Tekanan intra ocular rendah

- Angulus iridocornealis dangkal

- Bentuk dan letak pupil berubah

- Terlihatnya ada rupture pada cornea atau sclera

- Terdapat jaringan yang prolaps (lepas), seperti: iris, lens, retina

- Konjungtiva chemosis

Patofisiologi

Benda asing dengan kecepatan tinggi (trauma karena suatu ledakan) akan menembus seluruh lapisan sclera atau cornea serta jaringan lain dalam bulbus oculi sampai ke segmen posterior kemudian bersarang didalamnya bahkan dapat mengenai os orbita. Dalam hal ini akan ditemukan suatu luka terbuka dan biasanya terjadi prolaps (lepasnya) iris, lens, ataupun corpus vitreus. Perdarahan intraocular dapat terjadi apabila trauma mengenai jaringan uvea, berupa hifema atau henophthalmia.

Komplikasi

Endoftalmitis, panoftalmitis, ablasi retina, haemorraghic intraocular, dan ftisis bulbi.

Penatalaksanaan

Diberikan antibiotik topical, mata ditutup, dan segera dikirim pada dokter mata untuk dilakukan pembedahan. Diberikan antibiotik sistemik secara oral atau intravena, anti tetanus profilaktik, analgesik, dan sedatif bila perlu. tidak boleh diberikan steroid local dan bebat tidak boleh menekan bola mata. Pengeluaran benda asing sebaiknya dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas yang memadai.

TRAUMA TUMPUL

1. Trauma tumpul palpebra

Suatu benturan tumpul bisa mendorong mata ke belakang sehingga kemungkinan merusak struktur pada permukaan (kelopak mata, konjungtiva, sklera, kornea dan lensa) dan struktur mata bagian belakang (retina dan persarafan). Karena palpebra merupakan pelindung bola mata maka saat terjadi trauma akan melakukan reefleks menutup. Hal ini akan menyebabkan terjadinya hematoma palpebra. Hematoma ini terjadi karena keluarnya darah dari pembuluh darah yang rusak pada trauma tersebut

2. Trauma tumpul lensa

a. Dislokasi Lensa. Dislokasi lensa terjadi pada putusnya zonula zinn yang akan mengakibatkan kedudukan lensa terganggu.

b. Subluksasi Lensa. Terjadi akibat putusnya sebagian zonula zinn sehingga lensa berpindah tempat. Subluksasi lensa dapat juga terjadi spontan akibat pasien menderita kelainan pada zonula zinn yang rapuh (sindrom Marphan). Pasien pasca trauma akan mengeluh penglihatan berkurang. Subluksasi lensa akan memberikan gambaran pada iris berupa iridodonesis. Akibat pegangan lensa pada zonula tidak ada maka lensa yang elastic akan menjadi cembung, dan maata akan menjadi lebih miopik. Lensa yang menjadi sangat cembung mendorong iris ke depan sehingga sudut bilik mata tertutup. Bila sudut bilik mata menjadi sempit pada mata ini mudha terjadi glaucoma sekunder.

c. Luksasi Lensa Anterior. Bila seluruh zonula zinn di sekitar ekuator putus akibat trauma maka lensa dapat masuk ke dalam bilik mata depan. Akibat lensa terletak dalam bilik mata depan ini maka akan terjadi gangguan pengaliran keluar cairan bilik mata sehingga akan timbul glaucoma kongestif akut dengan gejala-gejalanya. Pasien akan mengeluh penglihatan menurun mendadak, disertai rasa sakit yang sangat, muntah, mata merah dengan blefarospasme. Terdapat injeksi siliar yang berat, edema korne, lensa di dalam bilik mata depan. Iris terdorong ke belakang dengan pupil yang lebar. Tekanan bola mata sangat tinggi.

d. Luksasi Lensa Posterior. Pada trauma tumpul yang keras pada mata dapat terjadi luksasi lensa posterior akibat putusnya zonula zinn di seluruh lingkaran ekuator lensa sehingga lensa jatuh ke dalam badan kaca dan tenggelam di dataran bawah polus posterior fundus okuli. Pasien akan mengeluh adanya skotoma pada lapang pandangannya akibat lensa mengganggu kampus. Mata ini akan menunjukkan gejala mata tanpa lensa atau afakia. Pasien akan melihat normal dengan lensa +12.0 dioptri untuk jauh, bilik mata depan dalam dan iris tremulans. Lensa yang terlalu lama berada dalam polus posterior dapat menimbulkan penyulit akibat degenerasi lensa, berupa glaucoma fakolitik ataupun uveitis fakotoksik

e. Katarak Trauma. Pada trauma tumpul akan terlihat katarak subkapsular anterior ataupun posterior. Kontusio lensa menimbulkan katarak seperti bintang, dan dapat pula dalam bentuk katarak tercetak yang disebut cincin Vossius. Cincin Vossius merupakan cincin berpigmen yang terletak tepat di belakang pupil yang dapat terjadi segera setelah trauma, yang merupakan deposit pigmen iris pada dataran depan lensa sesudah suatu trauma, seperti suatu stempel jari.

3. Trauma tumpul cornea

Abrasi Kornea adalah keadaan dimana epitel dari kornea terlepas yang bisa diakibatkan oleh trauma tumpul, trauma tajam dan trauma kimia dan juga benda asing subtarsal. Abrasi kornea bisa berulang dan menyebabkan rasa sakit yang hebat, dimana abrasi kornea merupakan suatu kegawatdaruratan pada mata yang bisa menyebabkan ulserasi dan oedema kornea yang akan menganggu visus. Diagnosis bisa ditunjang dengan uji flourosensi dimana akan terlihat warna hijau bila terjadi kerusakan pada epitel kornea. Abrasi dapat terjadi pada berbagai lapisan, bila terjadi pada epitel akah sembuh dalam waktu 1-2 hari, sedangkan bila kerusakan sudah mencapai stroma akan terdapat jaringan parut permanen yang mengganggu visus. Penatalaksanaan yang dapat dilakukan adalah pemberian antibiotik topikal dan midriatikum untuk merelaksasi iris dan mengurangi rasa sakit. Pastikan juga tidak terdapat benda asing yang dapat menganggu proses penyembuhan.Masa penyembuhan tergantung pada luasnya kerusakan, dan juga adakah infeksi, benda asing dan mata kering yang bisa menyebabkan kegagalan terapi. Mata kemudian di tutup dengan penutup yang membuat pasien merasa lebih nyaman, tetapi tidak disarankan pada anak-anak karena dengan mudah dapat membuka penutupnya. Pada pasien anak dan abrasi yang lebih dari 30% dari permukaan kornea harus di konsultasikan kepada dokter spesialis mata.

4. Trauma fundus oculi

Trauma tumpul yang mengenai mata dapat mengakibatkan kelainan pada retina, koroid, dan saraf optik. Perubahan yang terjadi dapat berupa edema retina, perdarahan retina, ablasi retina, maupun atrofi saraf optik. Jika dijumpai penderita dengan trauma tumpul dan penurunan tajam penglihatan yang tidak dapat dikoreksi dengan pemberian kacamata, sedangkan keadaan media mata jernih, maka dapat diperkirakan adanya kelainan di fundus atau di belakang bola mata (Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia, 2002). Diagnosis banding penglihatan turun setelah sebuah cedera mata adalah trauma retina, perdarahan corpus vitreous, dan trauma yang mengakibatkan kerusakan pada kiasma optikus (Ilyas, 2009).

Jika terjadi ablasi retina akibat trauma tumpul mata, maka penderita harus cepat dirawat untuk kemudian dikirim ke dokter spesialis. Pemeriksaan oftalmoskopi menunjukkan adanya retina yang abu-abu dan pembuluh darah yang tampak terangkat dan berkelok-kelok. Jika terjadi atrofi saraf optik, maka tajam penglihatan akan sangat menurun, bahkan sampai buta. Pada umumnya, kelainan yang menyebabkan atrofi saraf optik terletak di belakang bola mata seperti adanya perdarahan retrobulbar, fraktur dinding orbita, atau fraktur basis cranii (Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia, 2002).

Fundus harus diperiksa dengan oftalmoskopi direk setelah midriasis penuh dilakukan. Jika tidak terlihat detil struktur mata, maka hal ini menunjukkan terjadinya perdarahan vitreous. Perdarahan vitreous terabsosrbsi dalam waktu beberapa minggu atau mungkin diperlukan pengangkatan dengan virektomi. Daerah perdarahan retina dan daerah berwarna putih (edema) dapat dilihat. Koroid juga bisa robek dan menyebabkan perdarahan subretina yang kemudian diikuti oleh parut subretina (James, 2006)

PEMBAHASAN

Trauma pada mata dapat terjadi dalam bentuk-bentuk antara lain trauma tumpul, trauma tembus bola mata, trauma kimia, dan trauma radiasi. Pemeriksaan awal pada trauma mata antara lain meliputi anamnesis dan pemeriksaan fisik.

Ananmesis harus mencakup perkiraan ketajaman penglihatan sebelum dan segera sesudah cedera. Harus dicurigai adanya benda asing intraokular apabila terdapat riwayat salah satunya karena ledakan.

Pemeriksaan fisik dimulai dengan pengukuran dan pencatatan ketajaman penglihatan. Permukaan kornea diperiksa untuk mencari adanya benda asing, luka, dan abrasi. Dilakukan inspeksi konjungtiva bulbaris untuk mencari adanya perdarahan, benda asing, atau laserasi. Kedalaman dan kejernihan kamera anterior dicatat.

Berdasarkan skenario, terdapat riwayat pasien terkena ledakan aki yang mengenai matanya. Trauma yang terjadi adalah trauma kimia, tetapi dimungkinkan juga terdapat trauma yang lain, antara lain trauma tembus, trauma tumpul dan harus dicurigai adanya benda asing pada bola mata. Akibat trauma-trauma yang disebabkan oleh ledakan aki pada penderita berakibat seperti yang digambarkan dalam skenario. Antara lain adalah sebagai berikut:

* Akibat ledakan yang terjadi menyebabkan keluhan bola mata kanan berdarah. Perdarahan tersebut kemungkinan dapat berasal dari uvea atau kemungkinan karena ruptur pada sklera.
* Pada penderita didapatkan visus turun. Kemungkinan dapat disebabkan antara lain : koagulasi kornea, subluksasi lensa, kerusakan retina, syaraf, dan adanya hifema.
* Palpebra inferior ruptur di 1 cm sebelah lateral kantus medial. Hal ini dapat menandakan bahwa kenumngkinan terdapat trauma tajam yang disebabkan karena ledakan aki tersebut.
* Konjungtiva bulbi chemosis dan cornea tampak edema. Disebabkan karena adanya reaksi terhadap bahan kimia dan kemungkinan adanya trauma tumpul.
* Di COA tampak darah di 1/3 bawah (hifema). Trauma dapat mengenai COA mengakibatkan perdarahan. Darah ini dapat berasal dari pembuluh darah corpus ciliare atau iris.
* Trauma yang terjadi pada penderita, dapat menyebabkan terjadinya subluksasi lensa. Hal ini diakibatkan karena zonula zinn yang putus. Akibat zonula zinn yang putus lensa mencembung dan lebih miopik sehingga visus turun.
* Trauma karena suatu ledakan, akan menimbulkan suatu perforasi karena benda tersebut masuk dengan kecepatan yang sangat tinggi dan biasanya benda tersebut dapat mencapai segmen posterior. Oleh karena sebab ini pada pemeriksaan fundus tampak gelap yang dapat menandakan perdarahan pada vitreus.
* Trauma mata dapat menyebabkan perubahan tekanan bola mata baik penurunan maupun peninggian tekanan bola mata. Pada pasien dinyatakan TIO N- yang berarti penurunan tekanan bola mata. Bila tekanan menjadi rendah, pada perabaan dengan jari terasa lunak yang menandakan adanya kerusakan dinding bola mata, yaitu terjadinya ruptur bola mata.
* Pada trauma yang terjadi pada mata, terdapat kemungkinan terjadi gangguan gerakan bola mata. Pasien dinyatakan tidak dapat melirik ke atas kemungkinan terjadi ruptur pada m. rectus bulbi inferior dan m. obliquus bulbi superior. Atau dapat juga terjadi fraktur tulang orbita yang menyebabkan terjepitnya kedua muskulus tersebut.

Penatalaksanaan pada trauma akibat ledakan aki antara lain bertujuan : memperbaiki penglihatan, mencegah infeksi, mempertahankan arsitektur mata, dan menghilangkan sequele.

Trauma pada mata merupakan suatu kedaruratan mata. Oleh karena itu, penanganan harus segera dilakukan. Penanganan pada trauma bahan kimia yang harus segera dilakukan adalah irigasi bahan kimia yang meliputi: pembilasan yang dilakukan segera, dengan anestesi topikal terlebih dahulu. Pembilasan dengan larutan non-toxic (NaCl 0,9% Ringer Lactat dsb) sampai pH air mata normal (dinilai dengan kertas Lakmus). Benda asing yang melekat dan jaringan bola mata yang nekrosis harus dibuang. Bila diduga telah terjadi penetrasi bahan kimia ke dalam bilik mata depan (BMD), dilakukan irigasi BMD dengan larutan RL.

Antibiotik yang diberikan pada penderita bertujuan mencegah infeksi, analgetik untuk mengurangi rasa sakit, dan asam tranexamic bertujuan menghentikan perdarahan melalui penghambatan aktivator plasminogen dan plasmin.

Eksplorasi adalah pengamatan/penelusuran dengan pemeriksaan, bertujuan sebagai diagnosis awal. Pada penderita dalam skenario dilakukan rekanalisasi canalis lacrimalis dan rekonstruksi palpebra bertujuan untuk mempertahankan arsitektur mata.

PENUTUP

KESIMPULAN

1. Trauma pada mata dapat terjadi dalam bentuk-bentuk antara lain trauma tumpul, trauma tembus bola mata, trauma kimia, dan trauma radiasi.

2. Berdasarkan skenario, terdapat riwayat pasien terkena ledakan aki yang mengenai matanya. Trauma yang terjadi adalah trauma kimia, tetapi dimungkinkan juga terdapat trauma yang lain, antara lain trauma tembus, trauma tumpul dan harus dicurigai adanya benda asing pada bola mata.

3. Penatalaksanaan pada trauma akibat ledakan aki antara lain bertujuan : memperbaiki penglihatan, mencegah infeksi, mempertahankan arsitektur mata, dan menghilangkan sequele.

4. Trauma pada mata merupakan suatu kedaruratan mata. Oleh karena itu, penanganan harus segera dilakukan. Penanganan pada trauma bahan kimia yang harus segera dilakukan adalah irigasi bahan kimia yang meliputi: pembilasan yang dilakukan segera, dengan anestesi topikal terlebih dahulu. Pembilasan dengan larutan non-toxic (NaCl 0,9% Ringer Lactat dsb) sampai pH air mata normal (dinilai dengan kertas Lakmus). Benda asing yang melekat dan jaringan bola mata yang nekrosis harus dibuang. Bila diduga telah terjadi penetrasi bahan kimia ke dalam bilik mata depan (BMD), dilakukan irigasi BMD dengan larutan RL.

SARAN

Untuk mencegah terjadinya trauma mata, hendaknya :

1. menghindari perkelahian
2. memakai alat pelindung saat bekerja
3. setiap pekerja yang berhubungan dengan bahan kimia, mengerti bahan apa yang ada di tempat kerjanya.
4. pada pekerja las, memakai kaca mata
5. awasi anak yang sedang bermain.

DAFTAR PUSTAKA

1. Bruce, Chris, dan Anthony. 2006. Lecture Notes : Oftalmologi. Edisi 9. Jakarta : Penerbit Erlangga.
2. Ilyas, H. Sidarta. 2009. Ilmu Penyakit Mata edisi ketiga. Jakarta: Balai Penerbit FKUI
3. Ilyas, H. Sidarta, H.H.B. Mailangkay et al. 2002. Ilmu Penyakit Mata untuk Dokter Umum dan Mahasiswa Kedokteran edisi kedua. Jakarta: Sagung Seto.
4. Ilyas, H. Sidarta. 2001. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Edisi 2. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
5. Mansjoer, Arif, Kuspuji Triyanti et al. 2005. Kapita Selekta Kedokteran edisi ketiga. Jakarta: Media Aesculapius
6. Vaughan, Asbury, Riordan-Eva (eds). 2000. Trauma Dalam Oftalmologi Umum, Edisi 14. Jakarta: Penerbit Widya Medika. 2000.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar